GAMBARAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RS. TK.II PELAMONIA MAKASSAR TAHUN 2010

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Keadaan bayi sangat tergantung pada pertumbuhan janin dalam uterus, kualitas pengawasan Antenatal, penanganan persalinan dan perawatan setelah lahir. Kejadian bayi dengan berat badan yang rendah masih sangat tinggi di negara berkembang ini merupakan akibat rendahnya status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan yang dimiliki kebanyakan masyarakat sehingga kesadaran dan pemahaman mengenal kondisi kehamilannya masih sangat kurang akibatnya dapat terjadi komplikasi pada bayi seperti asfiksia dan mengakibatkan meningkatnya mordibitas dan mortalitas terhadap bayi.
Data menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2007 berkisar 17 juta jiwa per tahun. Secara umum yang paling banyak mengalami BBLR adalah satah satunya Negara berkembang dimana angka kejadiannya berkisar 16% per tahun. Hal ini dapat terjadi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ibu mempunyai beberapa penyakit yang langsung berhubungan dengan kehamilan dan usia ibu. (Widness JA Neo Rev, 2000; 1: 261 – 267).
lndikator yang sangat penting untuk menilai seberapa jauh keberhasilan pembangunan kesehatan di seluruh pelosok yaitu dengan melihat indikator Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Bayi (AKB) Negara tetangga seperti Thailand (129/100.000), Malaysia (30/100.000), Singapura (6/100.000) dan Indonesia 2 – 5 kali lipat lebih tinggi (52/1.000) kelahiran hidup. AKB salah satu barometer pelayanan kesehatan di suatu Negara bila hal ini masih tinggi berarti pelayanan kesehatan belum berhasil dan sebaliknya.
Angka kematian bayi menurut BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2007 sebanyak 26,9/1.000 kelahiran hidup, berarti setiap jam ada 18 bayi yang meninggal. Oleh karena itu Departemen Kesehatan Indonesia memberikan kesempatan setiap daerah untuk mengembangkan program kesehatan guna mencapai Indonesia Sehat tahun 2015 yaitu AKI 105/100.000 kelahiran hidup dan AKB 26/1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan data yang diperoleh dari RS.TK.II Pelamonia Makassar tahun 2010 terdapat sekitar 799 bayi dari jumlah kelahiran hidup, dan jumlah diatas di dapatkan bayi yang mengalami BBLR sebanyak 77 orang (9,63%), sedangkan meninggal 5 orang (0,62%) karena BBLR.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah BBLR (Bayi Berat lahir Rendah) adalah melakukan Antenatal Care yang baik, istirahat yang cukup dan memperhatikan gizi dan makanan yang di konsumsi.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan judul “GAMBARAN KEJADIAN BBLR DI RUMAH SAKIT PELAMONIA PADA TAHUN 2010”
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
Bagai mana gambaran kejadian BBLR menurut umur ibu, paritas, dan  pendidikan ibu di RS. TK.II Pelamonia Makassar Tahun 2010
C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di  RS.TK.II Pelamonia Makassar Tahun 2010
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui gambaran tentang kejadian BBLR menurut Umur Ibu di RS.TK.II Pelamonia Makassar Tahun 2010
b.      Untuk mengetahui gambaran tentang kejadian BBLR menurut paritas di RS.TK.II Pelamonia Makassar Tahun 2010
c.       Untuk mengetahui gambaran kejadian BBLR menurut tingkat Pendidkan ibu di RS.TK.II Pelamonia Makassar Tahun 2010
D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Praktis
Menentukan prioritas perencanaan program dan menentukan arah kebijakan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Bayi Berat Lahir Rendah.
2.      Manfaat Ilmiah
            Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber  referensi bagi pembaca untuk menambah pengetahuan dan bagi peneliti lain sebagai dasar atau pedoman pertimbangan, pembanding untuk peneliti tahap berikutnya.
3.      Manfaat Institusi
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan serta menjadi salah satu bahan bacaan bagi peneliti berikutnya.
4.      Manfaat Bagi Peneliti
            Hasil penelitian ini merupakan suatu pengalaman berharga dalam rangka memperluas wawasan keilmuan khususnya mengenai Bayi Berat Lahir Rendah

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan Umum Tentang Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
1.      Pengertian BBLR
Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram. Menurut Sarwono (tahun 2007), bayi berat badan rendah adalah bayi yang berat badan lahirnya kurang atau sama
            Menurut pengajar IKA UI (2005) untuk mendapatkan keseragaman, pada Kongres European Perinatal Medician ke II di London (1970) definisi BBLR adalah:
a.       Bayi Kurang Bulan           :  Bayi dengan masa kehamilan kurang dari
   37 minggu (259 hari)
b.      Bayi Cukup Bulan            :   Iyalah bayi dengan masa kehamilan mulai
    dari 37minggu sampai 42 minggu (259
    hari sampai 293)
c.       Bayi lebih Bulan               :  Iyalah Bayi dengan masa kehamilan mulai
                                             42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih)
Sedangkan sarwono (2005) menjelaskan bahwa WHO (1979) membagi umur kehamilan dalam 3 kelompok :
a.       Pre-term     : Kehamilan kurang dari 37 minggu lengkap (kurang dari
                    259 hari)
b.      Aterem       : Kehamilan mulai dari 37 minggu sampai kurang dari 42
                      minggu lengkap (259 sampai 293 hari)
c.       Post-terem  : Kehamilan 42 minggu lengkap atau lebih (294 hari atau
                      lebih)
2.      Klasifikasi BBLR
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di bagi atas 2 golongan yaitu:
a.       Prematunitas
1)      Pengertian
Prematuritas adalah bayi lahir pada kehamilan kurang dan 37 minggu dengan berat badan yang sesuai.(Wiknjosastro H,2007)
2)      Tanda dan gejala
Tanda-tanda dan gejala  bayi Prematur menurut Surasmi Asrining, dkk, tahun 2006 antara lain:
a)      Berat badan kurang dari 2500 gram
b)      Panjang badan kurang dari 45 cm
c)      Lingkar kepala kurang dari 33 cm
d)     Lingkar dada kurang dari 30 cm
e)      Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
f)       Jaringan lemak sempurna. Labia minora belum tertutup oleh Labia bayora pada bayi perempuan dan pada bayi laki-laki testis belum turun ke dalam Skrotum.
g)      Pernafasan sekitar 45-50 kali permenit
h)      Frekuensi Nadi 100 – 140  kali permenit. (Saifuddin AB, 2009)
3)      Penyebab Prematuritas
Sampai sekarang penyebab terjadinya kelahiran premature belum diketahui. Beberapa keadaan yang merupakan faktor predisposisi terjadinya kelahiran premature, yaitu:
a)      Faktor Ibu
(1)   Malnutrisi
(2)   Jarak dua kelahiran yang terlalu dekat
(3)   Umur ibu < 20 tahun atau > 35 tahun
(4)   Penyakit jantung atau penyakit kronik lainnya
(5)   Melahirkan anak ≥ 4
b)      Faktor Janin
(1)    Cacat bawaan
(2)     Kehamilan ganda
(3)     lnfeksi dalam rahim
c)      Faktor Placenta
(1)   Palacenta Prefia
(2)   Solusio Placenta.(Surasmi A, dkk,2006)
4)      Komlikasi
a)      Sindrom gangguan pernapasan indiopatik (penyakit membranhialin).
b)      Pneumonia aspirasi, karena refleks batuk dan menelan belum sempurna.
c)      Pendarahan spontan pada fertikel otak lateral, akibat anoksia otak.
d)     Hiperbilirubinemia, karena fungsi hati belum matang.
e)      Hipotermia. (Wiknjosastro H,2007)
5)      Penatalaksanaan
Meningkat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan , perkembangan dan penyesuaian diri dengan Iingkungan hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu badan, makan bayi dan menghindari infeksi.
a)      Pengaturan suhu badan bayi prematuritas
Bayi prematuritas mudah dan cepat sekali kehilangan panas dan menjadi hipotermia. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang reatif Iebih luas dibanding dengan berat badan, kurangnya panas badan belum berfungsi dengan baik. OIeh karena itu bayi prematuritas harus dirawat dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim. Bila belum memiliki inkubator, bayi prematuritas dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas, sehingga panas badannya dapat dipertahankan.(Manuaba, 2008)
b)      Makanan bayi prematuritas
Pada bayi premature refleks mengisap, menelan dan bentuk belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, enzim pencernaan terutama lipase masih kurang, disamping itu kebutuhan protein 3- 5 gram/hari berat badan dapat meningkat dan tinggi kalori (110 kal/kg berat badan/hari). Jumlah ini lebih tinggi dan yang diperlukan bayi cukup bulan. Pemberian minum dimulai pada waktu berumur 3 jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia hyperbilirubinemia.
Sebelum pemberian minum pertama, harus didahului dengan menghisap cairan lambung untuk mengetahui ada tidaknya atresia esophagus dan mencegah muntah. Pada umumnya bayi dengan berat badan lahir 2000 gram atau lebih dapat menyusui pada ibunya sedangkan bayi dengan berat kurang dari 1500 gram, kurang mampu menghisap sehingga pemberian minum melalui sonde lambung. Dengan refleks menghisap yang masih lemah maka pemberian minum sedikit demi sedikit, tetapi dengan frekuensi yang Iebih sering.
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang paling utama sehingga ASIlah yang paling dahulu diberikan. ASI sangat mudah diterima oleh bayi. Kualitas ASI pada bayi premature mengandung kalori tinggi, ini disebabkan karena kadar lemak lebih tinggi (±25%) dibanding Air Susu Ibu yang mempunyai bayi matur. Bila faktor mengisap kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan Sonde Lambung. Permulaan cairan yang diberikan sekitar 50 – 60 cc/kg BB/hari. (Manuaba, 2008).
c)      Menghindari infeksi
Menghindari infeksi bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukannya belum sempurna. OIeh karena itu upaya prefentif sudah dilakukan sejak pengawasan Antenatal Care sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas. (Manuaba, 2008).
Tindakan aseptic dan antiseptic dapat mencegah terjadinya infeksi terutama infeksi silang, karena itu pada bayi petugas perlu disadarkan akan bahaya infeksi pada bayi, selanjutnya perlu:
1)      Diadakan pemisahan antara bayi yang terkena infeksi  dengan bayi yang tidak terkena infeksi.
2)      Mencuci tangan setiap kali sebelum dan sesudah memegang bayi.
3)      Membersihkan tempat tidur bayi segera sesudah dipakai.
4)      Membersihkan ruangan pada waktu-waktu tertentu.
5)      Setiap bayi mempunyai perlengkapan sendiri.
6)      Kalau memungkinkan bayi dimandikan ditempat tidurya masing-masing dengan perlengkapan sendiri.
7)      Setiap petugas di bangsal bayi harus memakai pakaian yang telah disediakan.
8)      Petugas yang menderita penyakit menular harus dilarang merawat bayi.
9)      Kulit dan tali pusat bayi harus dibersihkan  sebersih-bersihnya.
10)  Para pengunjung orang sakit hanya boleh melihat bayi dari belakang kaca. (Wiknjosastro H, 2007).
b.      Dismaturitas
1)      Pengertian
Dismaturitas adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya kurang dibandingkan dengan berat badan seharusnya untuk masa gestasi bayi itu. Dengan definisi tersebut, dismaturitas dapat menjadi preterm, aterm atau posterm (Surasmi Asrining,dkk, 2006).
2)      Tanda dan gejala
Tanda dan gejala klinis yang tampak sangat bervariasi karena dismatur dapat menjadi preterm, aterm dan posterm. Bayi dismatur preterm akan terlihat gejala fisik bayi premature ditambah dengan gejala retardasi pertumbuhan dan pelusitan. Pada bayi cukup bulan dan posterm dengan dismaturitas, gejala yang menonjol ialah pelusitan.
3)      Penyebab Dismaturitas
Faktor yang dapat menimbulkan dismaturitas janin atau IUGR diantaranya:
a)      Faktor Ibu
(1)   Malnutrisi
(2)   Penyakit ibu: Hipertensi, Penyakit paru-paru, Eklamsi.
(3)   Komplikasi hasil: Preklamsi, Eklamsi, Pendarahan Antepartum.
(4)   Kebiasaan ibu: Merokok, peminum alkohol.
b)      Faktor Uterus dan Placenta
(1)   Gangguan pembuluh darah
(2)   Gangguan insersi tali pusat
(3)   Kelainan bentuk placenta
(4)   Perkapuran placenta
c)      Faktor Janin
(1)   Kelainan kromosom
(2)   Hamil ganda
(3)   lnfeksi dalam rahim
(4)   Cacat bawaan. (Surasmi A, dkk. 2006)
4)      Komplikasi Dismaturitas
a)      Sindrom Aspirasi Mekonium
Keadaan hipoksia intra uterine akan mengakibatkan janin mengalami gasping dalam vetus, mekonium dan akan dilepaskan dan bercampur dengan cairan amniom, cairan yang mengandung mekonium itu masuk kedalam paru janin karena inhalasi. Pada saat bayi lahir akan menderita gangguan pernapasan.
b)      Hipoglikemia Simptomatik
Penyebab belum jelas tapi mungkin sekali disebabkan oleh persediaan glikogen yang sangat kurang pada bayi dismaturitas.
c)      Asfiksia Neonatorum
d)     Penyakit membran hialin
Hal ini karena sulfaktan paru belum cukup terutama bila masa gestasi kurang dari 35 minggu.
e)      Hiperbilirubinemia
Mungkin disebabkan gangguan pertumbuhan hati (Surasmi A,dkk.2006)
5)      Penatalaksanaan Dismaturitas
a)      Harus diberikan makanan dini untuk menghindari terjadi hipoglikimia kadar gula harus diperiksa setiap 8- 12 jam.
b)      Frekuensi pernapasan terutama dalam 24 jam pertama selalu diawasi untuk mengetahui adanya sindrom aspirasi mekonium.
c)      Pencegahan terhadap infeksi sangat penting, karena bayi sangat rentang terhadap infeksi akibat pemindahan lagi dari ibu kejadian ini terganggu.
d)     Temperatur harus dikelola, jangan sampai kedinginan karena mudah terjadi hipotermia. Hal ini disebabkan oleh karena luas permukaan tubuh bayi relatif lebih besar dan jaringan lemak sub kutan kurang. (Hasan R, 2007.)

3.      Prognosis BBLR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s